Jumat, 24 Oktober 2014

JANJI

Newer Post!!! Newer Story ;) hohohoho



Semua makhluk hidup membutuhkan oksigen untuk paru-parunya agar bisa terus bernafas, sama halnya dengan hatiku kepadamu, Kau yang selalu ada dan terbiasa ada dalam hidupku, tiba-tiba kusadari bahwa aku takut kau menjadi tidak ada, aku takut kehilanganmu..wahai sosok yang perasaanku padamu tak dapat terdeskripsikan oleh hatiku..
---

Jakarta, 31 Desember 2008
“Berjanjilah...”
“Hm?” Gadis cantik itu menoleh, menatap kekasihnya yang tengah menatapnya dalam.
“Berjanjilah untuk selalu mencintaiku apapun yang terjadi.”
Ia tersenyum, “Aku berjanji, bagaimana denganmu?”
“Pasti.. Aku berjanji apapun yang terjadi, aku akan selalu mencintaimu. Hatiku..hanya untukmu.” Ujar Pria itu tersenyum menarik lembut gadisnya kedalam pelukan hangatnya, menatap bersama matahari yang mulai kembali keperaduannya. “Tetaplah disampingku sampai malaikat maut datang untuk mencabut nyawaku.”
Gadis itu hanya diam, tersenyum miris dan mempererat pelukannnya, seolah itu adalah pelukan terakhir, pelukan perpisahan diantara keduanya.

***

Jakarta, 26 April 2013
“Hei..” Nadia menepuk pundak William, kekasihnya yang sedari tadi tampak melamun ditengah keramaian pesta pertunangan sahabat karib mereka.
William tersadar dari lamunannya dan kemudian tersenyum menatap kekasihnya yang malam ini tampak lebih cantik dari biasanya. “kenapa?”
“Kamu yang kenapa tuan William? Ada masalah ya di kantor?”
William hanya menggeleng pelan. “Nggak kok, ya udah, kita gabung sama yang lain aja ya. pasti Joshua sama Vebby udah nyariin kita.”
Nadia hanya menghela nafas berat, selalu saja seperti ini. Ada apa dengan Willy? Sudah bertahun-tahun ia mengenal Willy, tapi.. kenapa ia masih merasa belum mengenal dalam lelaki yang dicintainya itu, ia merasa masih banyak rahasia yang tak ia ketahui, ia merasa, lelakinya itu sangat misterius, sulit untuk dijangkau oleh hatinya.
Dan pada akhirnya Nadia hanya menganggukan kepala, mengikuti Willy yang sudah lebih dulu berjalan didepannya, enggan mempertanyakan pertanyaan yang sudah menumpuk dialam pikirnya, tak ingin mengacaukan suasana malam mereka yang sudah begitu indah, dan tak mau memperburuk suasana hati lelaki itu, ia terlalu takut, takut akan terjadi pertengkaran hebat diantara mereka kalau sampai ia bertanya, takut hubungan yang baru seumur jagung itu kandas ditengah jalan. Pengecut bukan? Apa boleh buat, ia sudah terlanjur mencintai lelaki itu terlalu dalam sampai takut kehilangannya.

“Ada apa?” Karen hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat dua sejoli itu, lalu menatap kekasihnya yang sedari tadi sudah menggenggam erat tangannya.
“Willy.. dan Nadia.” Karen menghela nafas. “entahlah..”
“mereka adalah pasangan yang serasi bukan? Paling tidak, Willy sudah mulai menemukan kebahagiaannya lagi. iya kan?” Rizky tersenyum mengelus lembut pipi Karen.
“ya” Karen bales tersenyum memegang tangan Rizky yang tengah mengelus pipinya. “Semoga saja begitu.” tambahnya lirih.

***

“Kau siap?” Tanya Willy tersenyum sambil menggenggam erat tangan Nadia.
Mereka berdua kini tengah berdiri gugup dan saling menatap didepan sebuah pintu berukuran besar, rumah Willy. Willy sengaja meminta izin pada Joshua dan Vebby untuk pulang lebih awal karena berniat ingin mengenalkan Nadia pada sang Mama.
“Ya..asal ada kau disampingku, aku akan selalu siap.”
Willy kembali tersenyum lalu memeluk Nadia, ia mengecup pelipis gadis itu berusaha menenangkan keresahan gadisnya. “tenang saja, mamaku baik. Dia tidak mungkin menggigitmu! Lagi pula dia tidak suka memakan daging manusia.”
Nadia menepuk pelan pundak Willy lalu melepaskan pelukan mereka. “kau ini! dalam keadaan seperti ini masih saja main-main, cepatlah! Aku tak ingin dicap sebagai gadis tak baik karena bertamu malam-malam kerumah calon mertuaku.”
Lelaki tampan itu hanya terkekeh pelan, menarik tangan Nadia untuk mengikutinya masuk kedalam rumah. “huh? Calon mertua? Kau Percaya Diri sekali ya?” Ujarnya diiringi gelak tawa.

***
“Bagaimana? Mama orang yang baik bukan? Sudah kukatakan padamu kalau mamaku itu tidak mungkin menggigitmu, apalagi sampai memakanmu! Dagingmu kan sedikit, lihat saja! Badanmu itu saja isinya tulang semua.”
“Hei! Kau!!!! Apa katamu tadi??? Apa kau tidak berkaca, huh? Lihat juga tubuhmu itu! seperti badanmu sendiri berisi saja, bahkan kalau dibandingkan dengan badanku, kau itu masih jauh dibawah rata-rata! Dasar cungkring!” Cibir Nadia pura-pura kesal kepada lelaki yang duduk disampingnyaa.
“Apa?? kau??”
Seorang wanita yang walaupun sudah berumur tapi wajahnya masih tetap saja cantik itu muncul sebelum Willy kembali melanjutkan ocehannya. Ia tersenyum menatap anaknya, sepertinya orang yang menelpon wanita itu tadi memberikan kabar baik untuknya, sehingga wanita itu sekarang tampak berbinar penuh bahagia.
“Mama terlihat senang sekali, ada apa?” Tanya Willy penasaran melihat sang Mama yang terus tersenyum bahagia.
“Tidak, hanya senang saja.” Ujar mamanya dan lagi-lagi ia tersenyum manis. “Dan emmm.. siapa namamu tadi?” Kata Mama Willy, Cathy Wiryawan menatap Nadia masih penuh dengan senyuman.
“Nadia tante.” Balas Nadia tersenyum.
“ohh..Nadia, sudah berapa lama kau menjadi pegawainya Willy?”
“udah sekitar 4 tahunan tante.”
“wah..cukup lama juga ya. dan.. emm kalau Tante boleh tau, apa ada masalah berat dikantor, sehingga Willy mendatangkan kau kemari? Anak itu, biasanya tak pernah membawa bawahannya kerumah.”
“Mama..” Willy menyela perkataan sang Mama. “Nadia itu...pacar Willy ma.” Kata Willy menggenggam erat tangan Nadia.
Cathy terdiam beberapa saat, masih berusaha mencerna dengan baik perkataan anak laki-laki satu-satunya itu. Senyuman diwajahnya menghilang, binar-binar bahagia yang sempat bersemayam diwajah cantiknya juga lenyap tak tersisa, ia kembali melihat Nadia, gadis yang kata Willy tadi adalah kekasihnya. Dari bawah sampai atas, ia terus mengamati gadis itu. lalu tersenyum sinis.
“Iya tante, saya pacarnya Willy.” Nadia tersenyum senang menatap Willy penuh cinta. Senang sekali rasanya dapat diterima oleh sang calon mertua.
“pacar ya?” cathy memasang wajah datarnya. Nadia menoleh kembali melihat Cathy, mama Willy. “Sangat mengecewakan Willy! Gadis miskin, yang menjabat sebagai bawahanmu kau jadikan pacar? Oh yang benar saja! Bahkan gadis ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Y....”
“Mama!”
Nadia terdiam, lalu ia menunduk  berusaha menahan tangis, ia pikir pertemuan awal dengan mama Willy tadi sudah berjalan lancar, karena wanita itu terlihat sangat baik dan manis, sehingga ia juga dengan mudahnya menebar senyuman manis. tapi entah kenapa setelah Willy mengenalkannya sebagai pacar, wanita itu seolah bertransformasi dari malaikat menjadi iblis yang memiliki kata-kata yang amat sangat tajam siap menghujam hatinya sampai hancur berkeping-keping. Apakah ini tanda ‘penolakan’ dari sang calon mertua. Setelah berbulan-bulan menjadi bahan pergunjingan dikantor atas berita jadiannya dengan Willy serta penolakan dari semua orang, apakah dia harus kembali mendapat penolakan dari sang calon mertua? Apa salahnya? Apa salah jika seorang bawahan dan bos saling jatuh cinta? Disinetron saja banyak yang seperti itu, lalu kenapa? Nadia memang bukan anak orang kaya, dia hanya anak yatim piatu yang tinggal dipanti asuhan namun memiliki otak yang cukup cerdas, sehingga bisa bergabung di perusahaan besar milik keluarga Wiryawan. Ia tidak semiskin yang orang-orang katakan, dia punya penghasilan sendiri yang bisa menunjang kehidupannya. Lalu apa? masa hanya karena dia hanya seorang bawahan lalu ia ditolak mentah-mentah oleh calon mertuanya sendiri?
“Ma..tolong..jangan banding-bandingkan Nadia dengan DIA, aku..aku menyayangi Nadia sekarang ma, jadi aku harap, mama bisa menerima keputusanku.” Ujar Willy sesaat setelah ia mengalihkan pandangannya dari Nadia.
Cathy menghela nafas berat, lalu kembali tersenyum sinis. “Apapun yang terjadi Willy, Mama tak akan pernah menerima gadis ini menjadi pacarmu atau bahkan sampai menjadi istrimu. Kau tau, Mama hanya ingin yang terbaik untukmu, dan yang terbaik itu.. hanya...”
“Nadia adalah yang terbaik untukku Ma, dia gadis baik-baik dan aku beruntung bisa mendapatkannya.”
Lagi, Cathy tersenyum miring, penuh sindiran. “Gadis baik? Gadis baik macam apa yang kau bicarakan ini Wil? Mana ada seorang gadis baik-baik yang masih keluyuran bersama seorang lelaki ditengah larutnya malam!”
“Cukup ma! Ku kira, tadi mama akan menerima Nadia dengan baik.”
“Mama memang menerimanya dengan baik kalau dia hanya temanmu, tidak lebih.”
“Maaf membuat mama kecewa.” Kata Willy beranjak dari duduknya lalu menarik tangan Nadia untuk ikut pergi bersamanya.
“Lihat! Bahkan sekarang kau berani melawan perkataan mamamu sendiri Willy. Gadis itu membawa pengaruh yang buruk untukmu.”
Willy hanya menggelengkan kepalanya dan terus berjalan menuju pintu keluar rumahnya.

***
Sebuah Camaro kuning berhenti dikawasan apartemen sederhana.
“Maafkan mama yah, mungkin dia sedang ada masalah.” Ujar Willy memecahkan keheningan, sedari pergi dari rumah Willy tadi, keduanya tetap bungkam, sibuk dengan pikiran masing-masing.
“kau benar Wil.” Nadia bersuara pelan menatap Willy. “Aku terlalu percaya diri memanggil mamamu calon mertua.” Tambahnya menertawakan dirinya sendiri. “seharusnya aku bisa belajar dari pengalaman dikantor, tidak semua orang bisa menerima hubungan ini.”
“Nad...” Willy menggenggam tangan Nadia, lalu menarik gadis itu masuk kedalam pelukannya. “Aku sering sekali menonton sebuah drama yang ceritanya sangat mirip dengan hubungan kita, kau tau.. semua orang awalnya memang menolak, tapi pada akhirnya semua akan indah pada waktunya. Ini hanya sebuah ujian cinta untuk kita berdua, aku yakin.. kalau kita tetap bersama, kita pasti bisa melewatinya. Percayalah..kalau kita memang ditakdirkan untuk bersama, milyaran orang yang mengatakan tidakpun takkan mampu mengalahkan kuatnya cinta kita.” Ujar Willy panjang lebar berusaha menenangkan perasaan kecewa gadisnya. “lagipula, seharusnya kau bersyukur! Setidaknya ucapanku memang semuanya benar, dan mama..tidak benar-benar menggigitmu.”
Nadia tersenyum mendengar perkataan Willy. “ya..setidaknya mamamu tidak berusaha menggigitku.”

***
Seorang lelaki tampan dan seorang gadis cantik terlihat tengah memasuki sebuah restorant yang cukup ramai pengunjung, keduanya tampak serasi ketika berjalan berdampingan seperti itu bak sepasang kekasih.
“Kau mau makan apa?” Tanya sang lelaki yang memiliki tahi lalat tepat diujung hidung itu.
“Seperti yang biasa saja kak.” Jawab sang gadis tersenyum lembut melepaskan tautan tangannya.
“Baiklah, tunggu dimeja yang itu yah. Dokter Juna akan datang sebentar lagi.” perintah lelaki itu menunjuk sebuah meja kosong disudut restorant, dan dibalas dengan anggukan semangat oleh gadis itu.
Yua Anastasya dan Kevin Antonio, dua kakak-beradik yang kini tengah menikmati makan siang mereka bersama disebuah restorant terkenal yang ramai pengunjung, sambil sesekali bersenda gurau keduanya tampak seperti sepasang kekasih.
“kak!!.. Juna mana sih? Kenapa lama sekali! Dia itu selalu saja terlambat! Tunggu saja kalau dia datang nanti aku akan....”
“akan kau apakan, huh?” Yua menoleh kebelakang tepatnya kesumber suara, seorang lelaki berlesung pipit yang tak kalah tampannya dengan sang kakak tengah tersenyum manis.
“Kau!!!” Yua menggeram kesal. “kau akan kupecat jadi dokter pribadiku.” Ujarnya ketus sambil membuang mukanya.
“Hanya akan terjadi dialam mimpimu, Honey.” Kata lelaki itu tersenyum evil lalu merangkul mesra bahu Yua.
“ihhhh...” Gadis cantik itu mendelik. “kakak.. lihatlah lelaki ini, dia kurang ajar sekali! Maukah kau memukul kepalanya untukku?”
“ahhh..dengan senang hati, adikku tersayang.” Kata Kevin tersenyum jahil sambil menyingsingkan lengan bajunya, seolah tengah bersiap untuk melakukan sesuatu.
“huh..kalian berdua ini mainnya keroyokan, tidak adil! Tunggu saja akan kulaporkan pada menteri perlindungan anak, kalau kalian berdua bersekongkol untuk menganiaya anak lelaki kecil yang imut sepertiku.” Omelnya panjang lebar sambil memanyunkan bibirnya, merajuk.
“aihhhh.... yang seperti ini anak kecil?” ujar Yua menekan-nekan otot lengan lelaki itu. “cpcpcp...aku heran kenapa papa mau memperkerjakan orang seperti ini untuk merawatku.”
Arjuna, nama lelaki berlesung pipit itu, ia hanya tertawa mendengar keluhan dari sang gadis cantik tanpa melepaskan rangkulannya. “tentu saja karena aku ini adalah dokter tertampan yang pernah ada.” Katanya menaik turunkan alisnya menatap kedua kakak-beradik itu bergantian.
Kevin dan Yua hanya bergidik ngeri dan sedetik kemudian ketiganya malah larut dalam tawa atas pertengkaran konyol mereka tadi.

---
Karen tiba-tiba saja menghentikan langkah kakinya, terpaku memandang sesuatu yang sudah amat sangat lama tidak ia lihat. Willy dan Nadia yang berjalan didepan tak menyadari akan keterpakuan Karen, mereka masih terus saja melangkah maju menuju pintu masuk sebuah restorant untuk makan siang.
“Sayang? Ada apa? kenapa berhenti?” tanya Rizky saat sudah berhasil menyusul Karen, tadinya ia memang sempat tertinggal jauh dibelakang karna sibuk memakirkan mobil mereka dilapangan parkir. “Karen?”
Sang empunya nama tak kunjung menyahut.
“Karen? Sayang..hei, kenapa?” ujar Rizky menepuk pelan pundak Karen.
“Rizky....” Akhirnya Karen buka suara, ia menatap Rizky lalu tersenyum. “Ada...Aku melihat...”
“Apa?”
“Yua.”
“Hei kalian berdua! Jangan pacaran terus! Ayo cepat, nanti kita kehabisan jam makan siang!” teriak Nadia kesal saat menemukan kedua pasang sejoli itu masih terpaku menatap satu sama lain.
“eh..em.. Nad..kau duluan saja, nanti kami akan menyusul.” Balas Rizky.
Nadia menghela nafas lalu mengangguk mengiyakan.
“Karen? Kau serius?” tanya Rizky memegang kedua bahu Karen setelah memastikan Nadia telah menyusul Willy masuk kedalam restoran.
“Karen? Rizky?” Belum sempat Karen menjawab sebuah suara lembut menyapa mereka, keduanya serempak menoleh memastikan pendengaran mereka apa masih berfungsi dengan baik atau tidak.
---
Gadis itu menutup matanya lelah, lelah karena terus mengeluarkan air mata yang tidak ia kehendaki untuk keluar, air itu terus saja mengalir dengan mulus dipipinya yang chubby.
“Janji yang sudah tidak berlaku lagi ya?” tanyanya pada diri sendiri dengan suara lirih. Ia menghela air mata itu kasar, bosan merasakan air mata itu tiada henti-hentinya membasahi pipinya, apakah bendungan air mata itu sudah tidak berfungsi lagi? kenapa rasanya susah sekali untuk membuat air mata itu berhenti mengalir.
“padahal...padahal... apapun yang terjadi, aku masih, aku akan selalu... mencintaimu.”

Tiada hari tanpa bayang wajahmu..
Mengapa dirimu yang selalu hadir dibenakku..
Getar hatiku memanggil namamu..
Tanpa kusadari air mata ini bergulir..

Mungkinkah kujuga ada dihatimu..
Mungkinkah kau menangis mengingatku..
Mungkinkah kaupun memandang perih..
Dan tenggelam dalam kerinduan..

Sering kali ku berpura tertawa..
Laksana boneka yang tersenyum paksa, tersiksa..

Tak seorangpun tahu..
Ku tersenyum bukan bahagia..
Karena memang tak mungkin tanpamu..

“kau yakin Will?” tanya Nadia saat mereka berdua sudah tiba disebuah restorant mewah untuk dinner bersama keluarga besar Willy.
“tentu saja, mama sendiri yang mengatakan kalau aku harus mengajakmu. Kupikir mama mulai bisa menerimamu sebagai pacarku.” Jawab Willy tersenyum.
“ya.” Nadia tersenyum ragu. “kuharap juga begitu.”
Mereka berdua melangkah masuk kedalam restorant, berjalan menuju sebuah meja penuh makanan yang terlihat sudah ditempati oleh 5 orang itu.
“mama..papa..” panggil Willy tersenyum, beberapa hari terakhir ini hubungannya dengan sang mama tiba-tiba membaik, entahlah..mamanya tak pernah membahas soal hubungannya dengan Nadia lagi.
Cathy dan Alex Wiryawan, Kedua orang tua Willy berdiri menyambut kedatangan putra tunggalnya itu sambil tersenyum. “Sayang, kenapa lama sekali?” tanya Cathy.
“maaf ma, tadi dijalan macet.”
“ya sudah tidak apa-apa, ayo cepat kemari! Kau pasti masih ingat mereka kan?” tanya Cathy menunjuk 1 orang wanita dan 2 orang pria yang masih duduk manis dimeja mereka sambil tersenyum menatap Willy.
Willy terdiam saat melihat wajah-wajah itu lagi, 5 tahun. Waktu yang cukup lama tapi tak mampu menghapus bayang-bayang wajah 3 orang yang amat sangat dikenalnya itu.
“Hallo Willy.” Sapa Tia, ia beranjak dari duduknya lalu memeluk Willy.
“Tante.” Willy masih diam untuk beberapa saat, lalu setelah berhasil menenangkan hatinya ia membalas pelukan hangat wanita kedua yang sudah ia anggap sebagai ibunya itu. “I miss you tante.” Tia terkekeh lalu melepas pelukannya.
“I miss you too, banny.”
“Hei Sobat kecil.” Sapa Ari, suami Tia meninju pelan lengan Willy.
“Om.” Willy tersenyum lalu memeluk pria paruh baya itu. “Well, aku bukan sobat kecilmu lagi, Om. Apa Om tidak lihat, aku ini sudah menjadi lelaki dewasa.”
Ari tertawa lalu melepas pelukannya. “ya.. you looks like that.”

“Apa semuanya keluarga Willy?” Tanya Nadia dalam hati. Ia berdiri jauh dibelakang Willy dan orang-orang yang kini terlihat memeluk lelaki tampannya itu. Gadis cantik bergaun hijau itu merasa kalau tiba-tiba dirinya merasa diacuhkan oleh Willy, lelaki itu tampak mengabaikannya saat bertemu dengan orang-orang itu. bahkan tadi saat mereka masuk kedalam restorant, Willy sama sekali tak menyentuh tangannya seperti biasa. Malam ini, Willy tampak berbeda.

“Apa gadis itu temanmu Willy?” tanya Tia saat melihat gadis yang berdiri dibelakang mereka.
“Ya, dia itu bawahan Willy dikantor.” Jawab Cathy tersenyum.
“ohh..kemarilah sayang, teman Willy berarti teman keluarga kami juga.” Ujar Tia terdengar ramah dan bersahabat.
Ketiga orang yang sama sekali tak Nadia kenal itu ternyata sangat baik sekali, jarang ada keluarga kaya yang seperti mereka. Menjadi anak dari keluarga itu pasti sangat membahagiakan. Baru kenal beberapa menit yang lalu saja dirinya sudah diterima dengan sangat baik dan hangat dikeluarga itu. pantas saja Willy bisa merasa sangat nyaman. Dia belum pernah melihat senyuman yang terpahat jelas diwajah Willy tadi, senyuman yang terasa berbeda.

“Apa..dia juga ada disini?” Willy bergumam dalam hati, mengalihkan pandangannya keseluruh penjuru ruangan restorant. Berusaha menemukan sesuatu, tidak, bukan sesuatu melainkan seseorang.

“Hei! Mencari adikku yah?” Goda seorang lelaki tampan yang duduk disebelah Willy.
“tidak.” Ujar Willy berusaha acuh tak acuh. Mengembalikan ekspresinya menjadi datar agar tak seorangpun dapat membaca apa yang tengah ia pikirkan.
“maaf aku terlambat.” Seorang gadis cantik bergaun putih muncul ditengah obrolan 2 keluarga itu.
Semuanya menoleh terutama Willy, bahkan ia tak bisa menghentikan gerak kepalanya sendiri yang seolah kini tengah bergerak dengan kemauannya sendiri tanpa ada aba-aba apapun darinya. Ia menatap gadis cantik itu. masih gadis yang sama, bahkan gadis itu sekarang semakin cantik dan... dan ya...hanya Willy yang tau jawabannya.
Nadia terpaku untuk beberapa saat. Gadis yang tengah ia lihat sekarang ini amat sangat cantik, tubuhnya yang tinggi semampai dibalut oleh gaun putih, membuat kulitnya yang memang sudah putih jadi makin bercahaya, rambut gadis itu panjang dengan ujung-ujung rambut yang dibuat ikal serta make up yang sangat natural. Sempurna! Pikir Nadia mengamati gadis itu dari ujung kaki sampai ujung kepala. ‘apa gadis ini benar-benar manusia?’ Nadia bertanya-tanya dalam hati. ‘kurasa, dia ini bukan manusia, melainkan bidadari yang tersesat dibumi.’ Tambahnya lagi. ‘Astaga, kenapa perempuan ini cantik sekali.’ Nadia menunduk, tiba-tiba merasa kecil bila dibandingkan dengan gadis itu. ia menoleh menatap Willy. Lelaki itu terlihat tak bisa mengalihkan pandangannya kearah lain. ‘lihat kan? Bahkan Willy saja tak mampu berkedip melihat pesona gadis itu.’ rutuknya dalam hati.

Sang gadis cantik melihat orang-orang yang menatapnya takjub, ada mama dan papanya, lalu kakaknya, seorang gadis manis dengan lesung pipinya, ada..tante Cathy dan Om Alex.
‘Tunggu dulu, kalau ada tante Cathy dan Om Alex berarti...’ belum selesai ia berguman pandangannya sudah jatuh pada seorang lelaki tampan berjas putih itu, Willy. Lama kedua saling beradu pandang, hanya saling menatap tanpa bergerak sedikitpun, seolah waktu disekitar mereka telah berhenti dan dunia ini telah dijadikan hak milik mereka berdua.

Pancaran kerinduan terlihat amat sangat jelas pada pandangan keduanya, kedua orang tua Willy dan gadis itu hanya tersenyum melihat anak-anak mereka saling menatap.
“Yua.”
“Willy.”

‘Semuanya masih terasa sama, tapi sayangnya, janji itu sudah tak bisa kau tepati lagi.’

***

“Ketika kau harus memilih, mana yang akan kau pilih? Sesuatu yang ada pada genggamanmu tetapi masih kau ragukan, atau sesuatu yang dulu pernah ada didalam genggamanmu, sempat terlepas, tetapi kini telah kembali lagi.” (Santhy agatha)

Nadia sudah pulang diantar Kevin dan Mama, Papa Yua. Sedangkan Mama dan Papa Willy baru saja pulang setelah berhasil merayu Willy untuk mengantarkan Yua dan membiarkan Nadia diantarkan oleh orangtua Yua. Bukankah itu suatu hal yang merepotkan? Namun apa mau dikata, kalo orangtua sudah berkehendak, sangat sulit untuk mengatakan tidak.

Tadinya Nadia  setuju untuk pulang bersama keluarga yang baik hati itu karena ia berpikir kalau ia akan bisa banyak mengobrol banyak dengan gadis cantik bernama Yua Anastasya itu, tapi sayang ternyata gadis itu tidak ikut pulang bersama keluarganya dan juga dirinya. Nadia malah harus menelan pil pahit saat mengetahui kalau gadis cantik itu akan pulang berduaan saja dengan kekasihnya, Willy. Gadis mana yang tak cemburu melihat sang pujaan hati malah memilih untuk mengantarkan gadis lain pulang kerumahnya, bukan dirinya yang notabennya adalah kekasihnya.

---
Camaro kuning itu berjalan mulus menembus padatnya aktivitas malam hari ditengah kota. Sang empunya mobil dan sang penumpang masih enggan buka suara, hening dan diam fokus pada pikiran masing-masing, yang satu memperhatikan jalanan, yang satu lagi sibuk mengamati indahnya pemandangan kota lewat jendela mobil.
Willy sama sekali tak mengemudikan mobilnya menuju rumah Yua, melainkan ke sebuah tempat, tempat dimana hanya Yua dan Willy yang tau.

Mobil itu berhenti tepat menghadap sebuah pantai yang kini telah sepi pengunjung. Yua dan Willy keluar dari mobilnya lalu duduk dikap mobil itu sambil melihat pemandangan pantai dimalam hari yang cukup indah.
“Jadi, apa kabarmu?” Kata Willy memecah keheningan setelah beberapa menit mereka membisu, ia menatap wajah gadis itu yang terlihat semakin cantik dibawah sinar rembulan.
“cukup baik.” Jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya. “kau?” lanjutnya bertanya ikut menoleh, membalas tatapan mata Willy.
“Setelah 5 tahun berlalu, tentu saja kabarku baik. aku bukan lelaki bodoh yang akan mengurung diriku dikamar selama bertahun-tahun hanya karena ditinggalkan oleh kekasih yang amat sangat dicintainya.”
Yua tersenyum miris mendengar kata-kata tajam Willy. “yah.. kau benar, kau memang tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu.”
Yua kembali menatap indahnya riak ombak pantai yang diterangi sinar rembulan itu, air matanya menetes perlahan. Mencoba kuat dihadapan lelaki yang masih amat sangat dicintainya itu.
“Gadis itu cantik dan manis. Kalian tampak serasi, kuharap.. kau dan dia...”
“heh..yang benar saja.” Willy menyela perkataan Yua. “Kau berharap apa? Aku dan dia hidup bahagia selama-lamanya? Terima kasih! tanpa kau harap pun aku akan tetap bahagia bersamanya.” Willy berujar sinis melihat Yua yang sama sekali enggan menatapnya.
Lagi, air mata Yua menetes begitu saja, bahkan cairan berwarna merah yang meluncur bebas dari hidung gadis cantik itupun tak ingin menunggu lebih lama lagi untuk keluar. “Baiklah, kau selalu benar Will. Aku pulang. Terima kasih untuk malam ini.” Yua beranjak dari kap mobil Willy lalu melangkah cepat meninggalkan Willy yang masih terdiam melihat kepergian Yua.
Willy tertawa sumbang, menertawakan dirinya sendiri. “kau seorang aktor yang hebat William Crishtian!” air mata meluncur turun dari pelupuk matanya. Ia memukul kap mobil sekuat tenaga berusaha menghilangkan rasa sesak yang tiba-tiba menyerang dadanya.

---
Sementara Yua, gadis itu terus berlari mencoba menghilangkan rasa sakit didada dan dikepalanya. Air matanya berlomba-lomba untuk terjun bebas lagi kepipinya, mengalir disana dengan mulus bersamaan dengan cairan berwarna merah yang juga terus-terusan mengucur.
“Willy..” Bisiknya sebelum kesadarannya perlahan menghilang. Membawa kabut gelap dan tenggelam didalamnya.

---
Willy memutar stirnya ketika ia melihat siluet bayangan Yua dikegelapan malam, Gadis itu berjalan terseok-seok sambil memegangi kepalanya. Dengan segera Willy turun dari mobilnya ketika melihat kedua kaki jenjang itu berhenti melangkah. Ia berlari menghampiri tubuh yang tiba-tiba limbung itu. “Yua!!!”

“Willy..” Gadis itu bergumam.

Willy mendekap erat tubuh gadis cantik itu dalam pelukannya. “Ya Yua.. Ya, aku disini.”

---
Camaro kuning itu berhenti tepat didepan pagar tinggi sebuah rumah mewah. Rumah mewah yang terlihat sepi itu mengingatkannya akan hal-hal indah yang pernah terjadi disitu, dulu.. rumah itu tampak ramai oleh suara-suara pertengkarannya dengan gadis cantik ini, gadis yang sekarang berada disampingnya. Suara-suara orang yang memarahi mereka karena mereka terus berlarian kesana-kemari, dan suara tangis gadis ini yang akan mengakhiri kegiatan kejar mengejar mereka. Willy tersenyum kecil kala angannya kembali kemasa-masa indah itu. Dulu...
Rasanya sudah lama sekali..... Willy menatap gadis yang masih terlelap disampingnya, gadisnya memang bertambah cantik, tapi ada yang kurang.
Wajahnya kini tak lagi merona, Willy menyentuh lembut pipi Yua yang pucat.
Dulu, ketika ia mengeluarkan kata-kata gombalnya, pipi ini akan berubah warna menjadi pink. tapi lihat sekarang, rona itu seolah menghilang ditelan bumi.
Willy kembali menyentuh mata Yua yang terpejam. Dulu, mata ini menatapnya penuh cinta, mata yang terus berbinar penuh kebahagian. Perlahan, Willy menyentuh bibir Yua. Bibir yang selalu tersenyum cerah kepadanya, seperti sebuah sihir yang membuat orang yang melihatnya ikut tersenyum. Bahkan sekarang, bibir itu tampak pucat tidak semerah biasanya.
“Yua... kau kenapa?” Tanya Willy menatap gadisnya. Samar-samar ia melihat noda darah dihidung gadis itu, pandangannya jatuh pada gaun putih yang gadis itu kenakan. Ada beberapa tetes darah yang membuat gaun indah itu tampak menyeramkan. “Yua...”

---
1 minggu kemudian.

-Nadia’s POV-
Sejak malam itu, aku merasa Willy sangat berbeda dari biasanya, Malam dimana ia bertemu dengan Yua. Gadis yang baru-baru ini kuketahui sebagai mantan pacar Willy, oh tidak.. bahkan dari informasi yang kudapat mereka berdua itu belum pernah putus. Lalu, apa aku sekarang menjadi orang ketiganya? Apa statusku saat ini menjadi selingkuhan Willy? Hahh..kepalaku mendadak pusing bila memikirkan hal itu, semuanya jadi semakin buruk, apalagi dengan tingkah pola Willy sekarang, lelaki itu tampak lebih emosional dari biasanya belum lagi sekarang aku sering menangkap basah dirinya sedang melamun. 4 tahun aku mengenal Willy tapi selama ini lelaki tampan itu tak pernah menunjukkan emosinya didepan orang lain, ia cenderung bersikap dingin dan tenang. Tapi entah kenapa sekarang sifatnya yang dingin dan tenang itu lenyap ditelan bumi, hilang begitu saja.
Willy mudah sekali marah 1 minggu ini, bahkan aku saja yang berstatus sebagai pacarnya, ya pacar keduanya saja dibentak-bentak olehnya. Apa semua ini gara-gara Yua? Dan.. apakah selalu Yua juga yang dipikirkannya?

“Maaf membuatmu menunggu.” Ujarku duduk tepat dihadapan Yua, gadis yang semakin hari semakin cantik saja rupanya.
“Tidak apa-apa.” Jawabnya tersenyum lembut. “ada perlu apa Nadia?”
“hmm... aku... baiklah aku akan langsung bicara to the point padamu, kau harus tau kalau aku dan Willy..”
Yua tersenyum lalu memegang tanganku. Lihat! Bahkan tangannya saja halus sekali.
“Aku tau Nad.”
“kau tau?”
“ya.. dan aku tidak akan merebut siapa pun darimu. Termasuk Willy. Jika itu yang kau takutkan.” Katanya lembut, ia tersenyum tapi aku tahu senyuman itu tak sampai kematanya. Gadis ini terlihat sedih.
“Yua.. aku tak..”
“Nadia.. maukah kau berjanji padaku.”
Yua menggenggam erat tanganku, gadis itu tampak meringis sesekali seperti tengah menahan sakit. “janji apa?”
“berjanjilah untuk selalu bersama Willy, karena dulu aku tak bisa menepati janji itu. maka aku berharap kau mau meneruskan janjiku itu pada Willy.”
“Aku....Yua, kupikir Willy masih sangat mencintaimu.”
“aku ini hanya masa lalunya Willy Nad, dan kau.. kau adalah masa depannya. Jangan kecewakan dia lagi ya. hmmm..aku ada urusan, apa lain kali kau punya waktu lagi? aku ingin bisa dekat denganmu. dan bisakah mulai sekarang kita berteman?”
Aku hanya mengangguk untuk menjawab semua pertanyaannya. Gadis ini!! sebenarnya hatinya itu terbuat dari apa sih? Kenapa dia baik sekali padaku. Hah pantas saja Willy sangat mencintainya dulu, dan sekarang. Tentu saja. bagaimanapun aku mencoba menutup mataku, hati tak akan bisa dibohongi.
“ya sudah, aku pergi dulu ya Nad, sampai berjumpa lagi.” gadis itu melangkah pergi meninggalkan aku yang masih diam terpaku.
“Yua gadis yang baik bukan?” suara seorang wanita yang kukenal mengembalikan kesadaranku. Wanita ini, Tante Cathy.

-Nadia’s POV end-

***

“Ketika kau mencintaiku, aku akan selalu ada dihatimu. Ketika kau membenciku, aku akan ada dipikiranmu. Dan pada akhirnya aku memang akan selalu ada, untukmu..”

“Yua..” Willy bergumam, jari-jari tangannya memutih karena terlalu keras mencengkram kemudi modil. Kini ia hanya bisa menatap gadisnya dari jauh. Gadisnya yang masih sangat dicintainya dan gadis yang terus-terusan mendatangi pikirannya. lalu Nadia, Tentu saja Willy juga menyayanginya, ya dia memang menyayangi gadis manis itu. Tapi.. sebesar apapun usaha gadis manis itu masuk kedalam hidupnya, bahkan hatinya. Willy tak dapat memungkiri kalau Yua.. ya.. Yualah yang masih dan akan tetap jadi ratu hatinya, penguasa penuh cintanya dan tulang rusuknya. Bukankah rasa sayang dan cinta itu sedikit berbeda?

---
Yua melangkah pelan menyusuri jalan setapak menuju sebuah taman. Bukan untuk menghindari masalah. Ia hanya ingin menenangkan hatinya, berusaha tegar dan kuat. Gadis cantik itu duduk di sebuah kursi panjang berwarna putih yang tepat menghadap beningnya danau yang tenang. Air mata yang sudah dari tadi mengambang di kelopak matanya kini jatuh, membuat beberapa aliran di pipinya yang pucat.
“Beginikah rasanya Will?” tanyanya pada keheningan danau. “Sesakit inikah?”

“Cengeng!”ejek seorang anak laki-laki pada gadis kecil yang duduk di kursi panjang berwarna putih dipinggir danau itu. Ia duduk disamping gadis itu dan tersenyum melihat wajah gadis kecil itu cemberut menahan tangis.
“Yua nggak cengeng!”
“Yua cengeng kok, itu buktinya air matanya seember.”
“ihh Willy nyebelin, udah sana pergi. Yua benci sama Willy.”
“Walaupun Yua benci sama Willy, Willy tetep sayang kok sama Yua.” Kata anak laki-laki itu tersenyum menatap wajah cantik yang kini bersemu merah. Ia menghapus sisa-sisa air mata dipipi gadis itu. “dan Willy akan selalu sayang sama Yua.”
“tapi tadi Willy ninggalin Yua.” Gadis yang sempat tersenyum itu kembali cemberut ketika kembali mengingat penyebab ia menangis.
“Willy nggak akan pernah ninggalin Yua.” Anak laki-laki itu menatap jalan setapak yang kini telah berlumuran dengan es krim coklat. “Tadi Willy beliin Yua es krim, tapi jatuh pas Willy nyariin Yua.” Anak laki-laki itu kembali mengalihkan tatapannya pada gadis disampingnya. “Maafin Willy ya, udah buat Yua sedih.”
Gadis kecil itu mengangguk sambil tersenyum. “Maafin Yua juga ya Willy, tadi Yua pergi...” Gadis itu mengambil sebuah miniatur sepeda ontel tua yang persis seperti sepeda kesayangan Willy dirumah dari dalam tasnya. “.. buat beli ini.. untuk Willy.”
Anak laki-laki itu tersenyum lebar. “Makasih ya, tapi Willy nggak suka kalau demi Willy Yua pergi seperti tadi, Willy takut kehilangan Yua. Kalau Yua pergi, Willy kan bingung mau cari Yua dimana. Pokoknya Yua harus janji sama Willy, kalau Yua nggak akan pernah pergi lagi tanpa Willy.”Anak laki-laki itu mengulurkan jari kelingkingnya.
“Janji.” Balas gadis kecil itu ikut mengaitkan jari kelingkingnya. Senyum keduanya mengembang menatap satu sama lain.

Gadis itu tersenyum, saat angannya kembali memutar memori yang terjadi ditempat ini juga. Bulir air matanya berjatuhan, seseorang duduk disampingnya, mengeluarkan sebuah sapu tangan dan mengapus sisa-sisa air mata dipipi gadis cantik itu.
Yua menoleh dan mendapati penyelamat hidupnya tengah tersenyum lembut kearahnya. “Juna..” Ia memeluk laki-laki tampan itu dan menangis kencang dibahunya. “rasanya sakit Juna, sakit!” Ujarnya terisak.
Juna mengusap pelan punggung Yua, mencoba menenangkan gadis itu. “Menangislah Yua, bebaskan semua rasa sakit yang mengganjal dihatimu. Itu akan membuatmu lebih baik.”

Willy mengepalkan tangannya, ia kesal setengah mati melihat adegan seperti di televisi itu terjadi didepannya. Rasanya ia tak sanggup, ia tak sanggup melihat gadis itu berada dalam pelukan laki-laki lain. Ia tidak sanggup melihat lelaki lainlah yang akan menghapus air mata gadisnya, ia tidak sanggup dan takkan pernah sanggup jika gadisnya mencintai pria lain.
“Willy..” seseorang memegang tangan Willy ketika laki-laki itu berniat menghampiri Yua.
“Apaan sih lepas.” Kata Willy tanpa mau repot-repot menoleh.

“Willy, aku mau ngomong sama kamu.” Teriak gadis itu kesal, karena pria tampan yang masih berstatus sebagai pacarnya itu bahkan tak berniat melirik kearahnya. Willy menoleh kesal. “N..Nad.. Nadia...? kamu kok.. ada disini?”

“Bisa kita bicara berdua?” tanya Nadia setelah menghembuskan nafas kesal.
“Tapi.. aku..”
“Willy please..” Willy menoleh kearah kursi taman yang tadinya diduduki Yua dan seorang pria namun kursi itu tampak kosong. Apa mereka sudah pergi? Batin Willy melirik kekanan dan kekiri, berharap ia bisa melihat sosok Yua. Namun hasilnya nihil, keduanya memang telah pergi.
“Ya. Kita duduk dikursi pinggir danau itu saja.” Kata Willy lalu berjalan duluan meninggalkan Nadia.
Nadia tersenyum miris. “Bahkan dia tak lagi mau menggandeng tanganku.”


---

just to be continued :Dv
Selengkapnya...

Minggu, 16 Juni 2013

Setetes Embun Cinta Ajeng


 
Setetes Embun Cinta Ajeng..


Siapakah yang mampu hidup tanpa cinta??
Perempuan mana yang bisa membangun singgasana rumah tangganya tanpa cinta??
Tak ada!! Kecuali manusia yang hidup tanpa hati dan nurani. Seperti pelacur yang biasa hidup nista dan mendustakan cinta. Bahkan seekor merpati yang tiada dikaruniai akal pikiran menerima pasangan hidupnya atas dasar cinta. Tuhan menciptakan makhluk-Nya disemesta raya ini juga karena cinta. Matahari, rembulan dan bintang pun bersinar karna cinta. Sungai mengalir karena cinta. Angin bertiup karena cinta. Pohon berbuah karena cinta. Bunga-bunga bermekaran karena cinta. Segala benda dalam alam raya tunduk patuh menyembah Allah juga atas dasar cinta. Lalu kenapa selalu saja ada yang mengusik hukum cinta??
Gadis cantik itu masih terduduk diatas sejadahnya. Kedua matanya terpejam, dari dua sudut matanya keluar tetesan bening seperti embun. Ia mengambil kertas putih yang berada tak jauh dari jangkauannya. Sekali lagi ia membaca sepucuk surat penting dari ayahnya itu. surat yang membuatnya kehilangan gairah untuk hidup, surat yang membuat ia membenci dirinya sendiri, surat yang rasanya seperti mendapatkan vonis hukuman masuk nereka selama-lamanya. Padahal, beberapa hari lagi ia akan merayakan hari terindah dalam hidupnya, hari dimana ia diwisuda menjadi seorang Dokter.
Surat itu datang dan langsung menghancurkan semua kebahagiannya..
meluluhlantakan mimpi-mimpinya yang selama ini sudah ia kejar..
andai saja surat itu bukan dari ayahnya..
andai saja surat itu tidak seperti itu isinya..
andai saja orang yang disebut dalam surat itu bukan Raka.
Sekali lagi, gadis cantik itu memejamkan matanya.
Sakit, perih.. bagaikan belati yang tepat menghujam ulu hatinya.
“Mampukah aku melihat ayah terus menjadi budak, tanpa kemerdekaan..
Tidak!!! Aku tak mampu, dan Aku tak mau menjadi anak durhaka.” Lirihnya.
Namun dengan memenuhi isi surat itu, apa bedanya dengan menceburkan diri sendiri kedalam kolam yang penuh dengan buaya. Hidup akan terhina dan sengsara selamanya. lalu.. apa bedanya ia dengan seorang yang melacurkan diri?? Menggadaikan jiwa raganya untuk menebus materi delapan puluh juta demi kemerdekaan sang ayah.
“celakalah aku, aku akan melacurkan diri sendiri dengan kedok pernikahan.” Ia meratap sedih.

Gadis itu Ajeng, seorang gadis cantik yang berasal dari sebuah desa di Sidempuan. Gadis berjilbab ini telah kehilangan ibunya sejak ia masih kecil, ibunya sakit. Mengakibatkan sang ayah harus pontang panting cari uang untuk pengobatan ibunya. Ayah begitu mencintai ibu. 2 bidang sawah ayah jual hanya untuk berobat ibu, rumahpun ayah gadaikan. Masih kurang... ayah akhirnya meminjam uang pada seorang mucikari yang akhir-akhir ini telah masuk islam. Tak ada yang tau apa kedok mucikari itu masuk islam. Yang jelas dialah yang telah banyak membantu ayah.

Sejak kematian ibu, Ajeng tinggal bersama Uminya yang tak lain adalah sahabat baik dari ibunya. Umi adalah orang yang baik, ia begitu menyayangi Ajeng selayaknya anak sendiri. Umi tak pernah membentak bahkan berkata kasar pada Ajeng, hanya ada kasih sayang dengan tutur yang lembut dari Umi. Kalau bukan karena pengorbanan dan kerja keras Umi ia takkan pernah bisa sekolah sampai menjadi seorang mahasiswa yang berprestasi seperti ini. Bahkan dalam hitungan hari Ajeng akan diwisuda jadi seorang Dokter. Sungguh kebahagiaan yang tak terkira atas kerja kerasnya bersama Umi. Sejak ia datang kerumah yang cukup besar itu, Ajeng hanya tinggal bersama Umi dan Yudha, anak Umi yang sekarang sedang kuliah DiKairo. Suami Umi meninggal saat Yudha lahir. Yudha merupakan anak yang pintar dan Soleh. Berkat kepintarannya ia mendapat beasiswa untuk sekolah ke Kairo, Yudha sekarang sudah hampir menyelesaikan S3nya. Ia bahkan sudah pernah keliling dunia karena kepintarannya. Inggris, Amerika, Australia, Brazil, Istanbul (Turki) dan masih banyak lagi.
Untuk biaya hidup sehari-hari Umi hanya berjualan makanan ditoko-toko, terkadang Umi juga mau menerima pesanan orang. Dewasa ini, Ajeng membantu Umi untuk mencari uang. Yaitu dengan cara menjadi guru Private. Kamar Yudha yang sudah lama tak dihuni dimodif jadi sebuah kelas kecil yang cukup nyaman. Penghasilan yang lumayan untuk membeli segala keperluan Ajeng dan sisanya dapat ditabung.
--------------------------------------------------------------------------

ADA UDANG DIBALIK GANDUM, ya... ternyata KEBAIKAN sang mucikari itu tidak Cuma-Cuma, melihat Ajeng yang tumbuh dewasa degan paras yang cantik, soleha, baik, sopan terlebih ia adalah satu-satunya anak yang bisa mendapatkan beasiswa diJakarta karna kepintarannya, sang mucikaripun melamar ajeng untuk putranya, RAKA. Inilah imbalan yang ia minta untuk menebus semua hutang-hutang ayah Ajeng. Dasar!!! Dari awal gerak-gerik laki-laki tua itu memang mencurigakan. Dan sekarang semuanya terjadi, tentu saja Ajeng tak mau dinikahkan dengan Raka, yang benar saja... siapa yang mau dinikahkan dengan laki-laki yang hampir saja merenggut kesuciannya saat mereka masih duduk dibangku sekolah dasar. Dari kecil saja pikirannya sudah sepicik itu, apalagi sekarang.. gayanya yang sok preman dan paling berkuasa membuat hati Ajeng tertutup rapat. Tak ada kesempatan, mungkin hanya mukzizat dari Allah-lah yang dapat merubah sudut pandang Ajeng tentang pria yang hendak dinikahkan dengannya itu. apalagi 2 bulan yang lalu setelah ajeng berkunjung ke Sidempuan ia mengetahui suatu kenyataan pahit. Indah, satu-satunya sahabat Ajeng di Sidempuan menjadi seorang pelacur karena RAKA, awalnya Indah diberi embel-embel kalau Raka akan menikahinya, hallow Indah... Itu RAKA, percaya dengannya sama saja dengan menlimakan tuhan. Semua kata-katanya adalah dusta. Dan benar saja, setelah semuanya diberikan Indah Raka malah cuek bebek, seolah tak pernah terjadi apa-apa. Hhuhh.. dasar laki-laki bejat, habis manis sepah dibuang, ehh..abis dibuang, dipungut lagi, teruss dijual..#tega hembb.. nggak kebayang gimana perasaan Indah kalau tau sahabat terbaiknya jadi nikah sama Raka. Pastilah hidup ajeng akan menderita. Tersiksa lahir dan bathin.
“Tak bisakah aku menikah dengan seorang laki-laki yang lebih bersih??? Yang bisa jadi imam untukku dan keluargaku???” bisiknya pelan.

Semenjak surat itu datang, Ajeng menjadi gadis pemurung yang selalu mengunci dirinya dikamar, mencoba berfikir untuk menemukan jalan keluar atas segala beban pikirannya. Ajeng tak mampu untuk bercerita pada siapapun, apalagi Umi. Ia tak mau membuat Umi bersedih memikirkan masalahnya, sudah cukup ia merepotkan Umi selama ini.

-------------------------------------------------------------------------------------
Siang itu, Umi mengajak Ajeng untuk menjemput Yudha dibandara. Yudha pulang.... kakak Angkat tersayangnya itu kini pulang..... pulang untuk dua hal, pertama. Karna Yudha telah menyelesaikan sekolahnya dan telah mendapatkan pekerjaan di Jakarta. Dan Kedua karena Umi mau menjodohkan Yudha dengan gadis cantik, anak sahabatnya.
“kau gadis yang sangat beruntung Mbak Lia. Andaikan aku seberuntung dan secantik dirimu.” Lirih Ajeng setelah mendengar penjelasan Umi tentang perjodohan antara kakaknya Yudha dengan Mbak Lia.
“kenapa Ajeng?? Kenapa kau bicara seperti itu?? kau itu gadis yang sangat cantik anakku, sejatinya kau lebih cantik dari Lia bahkan kau juga sangat cerdas. Kurang beruntung apa lagi nak?? Apa yang membuatmu tak sempurna?? Apa yang kurang?? Apa ada yang kau inginkan?? Cerita pada Umi, kalau Umi mampu. Umi pasti akan memenuhinya.” Kata Umi lembut sambil membelai kepala Ajeng yang tertutup Jilbab berwarna cream.
“Maafkan ajeng Umi, maaf bila kata-kata ajeng menyakiti hati Umi. Sesungguhnya bukan itu maksud ajeng, ajeng hanya merasa iri pada Mbak Lia. Mbak Lia bisa mendapat suami yang baik, Saleh, setia dan bertanggung jawab seperti kak Yudha, sedangkan Ajeng???” Kata-kata itu menggantung begitu saja.
“Ajeng juga pasti akan mendapatkan suami seperti itu, seperti kak Yudha. Percaya sama Umi.” Umi tersenyum manis mengusap lembut pipi chubi Ajeng.
Ajeng hanya tersenyum tipis.
“semoga Umi, Ajeng pun berharap demikian. Seperti kak Yudha bukan Raka.” Gumam Ajeng dalam hati.
Kepulangan yudha memang mebuat Umi sangat bahagia. Anak lelakinya itu benar-benar gagah dan tampan, bahkan senyumnya sangat memikat, nada bicaranyapun enak, bacaan Al-Qurannya saat mengimami sholat maghrib sangat indah dan enak didengar.
“yudha belikan jilbab sutera asli dari Turki untuk Umi dan dek Ajeng. Yang ini untuk dek Ajeng, dan yang ini untuk Umi.” Kata yudha memberikan bungkusan kecil kepada dua orang paling berarti dalam hidupnya itu.
“Wahhh,, subhanallah kak. Indah sekali.” Ujar Ajeng langsung memakai Jilbab itu menutupi jilbab putihnya. “Gimana?? Bagus nggak??”
Umi tersenyum melihat Ajeng.
“Dasar orangnya sudah cantik ditambah dengan jilbab dari Turki itu. yaaaa... luar biasalah hasilnya. Kau seumpama bidadari yang turun dari surga Ajeng. Cahaya pesonamu mengalahkan cahaya yang dipantulkan oleh mentari siang hari.” Sahut yudha.
Seketika wajah Ajeng merona mendengar pujian kakak angkatnya itu, kakaknya memang suka berpuitis. Entah mengapa, Ajeng sangat suka dengan pujian-pujian kakaknya yang seperti ngegombal itu.
“Huuuhh...” hela yudha. “siapakah gerangan pangeran yang akan menikmati kesejukan cahayamu? Siapakah dia yang akan berbahagia mendapatkan kesucian jiwaragamu? Alangkah bahagianya dia!!.” Lagi-lagi Umi tersenyum mendengar perkataan Yudha yang terdengar seperti orang kasmaran. lain Umi lain Ajeng, Ajeng justru merasa seperti tersengat kalajengking saat mendengar kata-kata terakhir yudha. Air matanya kembali jatuh membasahi pipi putih dan mulusnya. Yudha melihat ajeng menitikan air matanya.
“loh?? Ajeng kenapa?? apa kata-kata kakak salah?? Apa barusan kakak menyinggungmu??” tanya yudha pelan.
“Tidak kak, Ajeng justru senang mendengar pujian kakak. Makanya Ajeng menangis.” Kata Ajeng Menyeka air matanya.
“Baguslah kalau begitu, sebagai imbalan karena pujian kakak tadi.. maukah dek Ajeng membuatkan nasi goreng spesial besok, sudah lama kakak tak menikmati makanan itu.”
Ajeng tersenyum. “Beres Bos!!”
Yudha kembali memberikan oleh-olehnya kepada Umi juga Ajeng. Ada tas tangan yang ia beli diParis, Liontin Kristal dari Italy, Cincin cantik dari Turki beserta sandal kulit putih gading yang modis. Dan Kebaya khas malaysia. Oleh-oleh terahkir yang Yudha berikan adalah sebuah gaun pengantin khas Turki yang sangat indah untuk Ajeng.
“Ini kakak belikan spesial untukmu Dik. Untuk kau pakai suatu saat nanti, ketika kau jadi pengantin.” Kata Yudha tersenyum.
“indah sekali kak, rapat menutup aurat dan islami. Sepertinya kau sangat mengetahui seleraku. Terus... untuk calon istri kakak mana??” tanya Ajeng.
“jangan khawatir, ada kok.”
“ya sudah, cukup ngobrolnya.. besok kita lanjutkan. Hari sudah larut nih.” kata Umi memegang pundak kedua anaknya.
“nahh lohhh... aku tidur dimana dong?? Kamarku kan jadi kelas?? Masa’ aku tidur dikelas?? Bu guru harus kudu tangung jawab!!!” Rajuk Yudha pada Ajeng.
Ajeng tersenyum tipis.
“malam ini Ajeng tidur sama Umi, Yudha tidurlah dikamar Ajeng.” Seloroh Umi yang kemudian berlalu kekamarnya.
“Ya sudah kak, selamat beristirahat yah. Semoga kakak merasa nyaman dengan kamarku.” Kata Ajeng beranjak dari duduknya. “dannn.... tenang saja, Bu guru akan tanggung jawab kok. Kelas itu akan jadi kamar kakak lagi, besok..” Ajeng tersenyum manis.

Jam menunjukan pukul tiga dinihari, Yudha bangun dari tidurnya. Membasuh diri dengan segarnya air wudhu berniat untuk sholat Tahajud, Ajeng yang mendengar suara Yudhapun ikut terbangun, tak tau kenapa, ia ingin sekali ikut sholat berjamaah bersama sang kakak. Diam-diam Ajeng makmum dibalik pintu kamar Yudha. Lantunan ayat suci yang Yudha baca sungguh indah, begitu merdu dan tartil. Yudha dan ajeng sama-sama larut dalam ayat-ayat yang mereka baca. Keduanya menangis menghadap Allah. Hati merekapun tak henti-hentinya bertasbih. Apalagi Ajeng, ia sungguh terisak. Berharap Allah akan memberikan petunjuk atas segala masalahnya. Yudha menghentikan tasbihnya saat mendengar isakan tangis, perlahan ia beranjak dari sujudnya dan membuka pintu kamar. Seketika ia terhenyak melihat Ajeng duduk diatas sejadah dengan menutup mukanya dengan kedua tangan. Yudha tersentuh dengan apa yang dilihatnya, perlahan yudha kembali ketempatnya semula dan melanjutkan tasbihnya.
“Dik Ajeng!!” panggil Yudha dengan suara halus.
“Ya Kak!!” Jawab Ajeng dengan suara bergetar.
“masih mau makmum??”
“Insyaallah.”
Yudha tersenyum. “sekarang witir dua rakaat lalu satu rakaat.”
Dan mereka berdua kembali bersujud dihadapan Allah.

****
“nanti siang, ayah dan kakakmu akan datang kemari.” kata-kata umi berhasil menghentikan acara sarapan Ajeng.
Ajeng terdiam membisu, matanya kembali berkaca-kaca. Ayah pasti mau menjemputku pulang ke Sidempuan, apa aku akan segera dinikahkan dengan lelaki bejat seperti Raka??? Apa hanya sampai disini kebahagiaanku??? Bagaimana ini?? Lirih ajeng dalam hati.
“Ajeng bisakan jemput ayah sama kak Fathir?? Soalnya mereka lupa jalan menuju rumah kita.” Lanjut Umi.
Ajeng tetap tak bergeming, ia diam seribu bahasa. Yudha menatap adik tersayangnya itu curiga. Pasti ada hal yang sedang difikirkan ajeng, sesuatu yang berat....
“iya umi, ajeng bisa kok. Nanti yudha temenin.” Sahut Yudha memecah keheningan yang tercipta ulah diamnya ajeng.
Umi tersenyum. Selesai sarapan pagi mereka bertiga duduk manis diruang tamu, melanjutkan cerita-cerita seru yang sempat tertunda semalam. Selesai mengobrol, Umi duduk disamping Ajeng lalu mengusap lembut kepala anak kesayangannya itu.
“Umi sangat menyayangimu nak, Umi mohon jangan pernah tinggalkan Umi, tetaplah disamping Umi sampai Allah memanggil Umi, umi mau kamulah yang akan merawat dan menemani Umi dihari tua umi nanti.”
Ajeng kaget mendengar kata-kata Umi barusan, bagaimana ini??? Kenapa Umi harus bicara seperti itu??? apa yang harus ajeng katakan pada Umi saat nanti ayahnya datang dan membawanya pergi, jauh dari Umi. “Insyaallah ya Umi.” Lirih ajeng.
Yudha kembali tersenyum melihat keakraban Umi dan Ajeng.
Siang harinya, yudha dan ajeng berangkat menuju terminal untuk menjemput ayah dan kak Fathir. Diperjalanan, air mata Ajeng terus saja mengalir dengan tatapan kosong yang menerawang jauh keluar jendela mobil. Yudha menghentikan mobilnya dipinggir jalan.
“Ajeng, kakak merasa kau sedang menyimpan masalah yang kau sendiri tidak kuat menanggungnya, kau telah menyembunyikan sesuatu dari kakak, kau sedih dan kau tak mengakuinya.”
Ajeng tetap diam, hanya suara sesenggukan tangis yang keluar dari bibirnya.
“kalau kau menganggap kakak ini orang lain, ya sudah kau pendam saja masalahmu itu. kakak hanya ingin melihatmu bahagia, kau tau Umi sangat menyayangimu, bila kau bahagia Umipun bahagia. Apa yang bisa kulakukan untuk membuatmu bahagia bila kakak sendiri tak tau masalah apa yang sedang menimpamu saat ini.”
“aku memang punya masalah kak.” Akhirnya hati Ajeng luluh, ia mau buka suara untuk segala masalahnya.
“masalah apa?? Udah kasih tau Umi??”
Ajeng menggeleng pelan. “Ajeng tak mau meyusahkan Umi kak.”
“apa kakak boleh tau masalahnya??”
“dengan satu syarat.”
“apa?”
“jangan beri tau Umi atau siapapun.”
“baiklah.”
Ajeng lalu menceritakan perihal surat ayahnya secara teperinci, tentang siapa Raka dan Bapaknya lengkap. Ajeng terisak kembali, meluaplah segalanya. Mata Yudha berkaca-kaca mendengar penuturan adik angkatnya itu. adiknya memang sedang dalam masalah yang serius.
“Ajeng perlu bantuan kakak.”
“apa??”
“bilang pada ayah untuk menolak lamaran Raka dan Bapaknya.”
“terus.. kalau kakak ditanya alasannya gimana??”
“katakan kalau Ajeng sudah punya calon sendiri. Pokoknya bicara menurut bahasa kakak aja deh, kakakkan pinter ngomong jangan sampai melukai hati ayah. Dan.. ajeng akan berusaha untuk mencari uang 80juta itu sebelum tanggal jatuh tempo.”
“ajeng, kalau boleh kakak bertanya. Bagaimana kau akan dapatkan uang sebanyak itu?”
“terus terang ajeng sama sekali tak tau kak, nanti akan ajeng pikirkan lagi. ajeng tak mau merepotkan siapapun dlm hal ini.”
“maaf jeng, kakak tak bisa berbohong.”
“ayolah kak, berbohong untuk kebaikankan tidak apa-apa.”
“tidak bisa Dik.”
“please kak!! Apa kakak rela kalau Ajeng jadi istri seorang Mucikari?”
“baiklah,  kakak akan menolongmu, tapi ada dua syarat?”
“Apa itu??”
“pertama, kau harus mencucikan pakaian kakak. Dan kedua, kau harus memijit kakak nanti malam.”
“kalau untuk sekedar mencucikan pakaian kakak sih Ajeng tak keberatan, lagian setelah kakak menikah nanti, istri kakaklah yang akan mengerjakan semua itu. tapi... kalau harus memijit... maaf kak ajeng tak bisa, kakak lupa ya.. kita kan bukan mahram.”
“kakak tidak lupa, nanti malam kakak akan pakai jaket supaya kulitmu tidak menyentuh kulit kakak. Dan..pijatnya juga diruang tamu saat kita mengobrol dengan ayah dan kakakmu beserta umi. Tapi kalau dik Ajeng tak mau, ya sudah kakak juga tak mau menolongmu!”
Ajeng hanya geleng-geleng kepala, dulu waktu masih kecil memang ia sering sekali memijit kakaknya itu. tapi setelah mereka menginjak bangku sekolah menengah atas. Ajeng tak pernah lagi bersentuhan dengan yudha.
“Hanya nanti malam saja kan??”
Yudha mengangguk.
“baiklah, ajeng setuju.”
“bagus.. kalau begitu kakak akan membantumu untuk bicara pada ayah dan kakakmu.”
Ajeng tersenyum, yudha menatap wajah adik angkatnya dengan seksama menyebabkan Ajeng tersipu. Dan mereka pun kembali melanjutkan perjalanan untuk menjemput ayah dan kakak ajeng.

Kedatangan Pak Ari dan Fathir disambut hangat oleh Umi. Lama mereka berbincang sambil mengenang almarhumah Bu Tia, ibunya ajeng. Ajeng cukup tenang karena sampai saat ini ayahnya tak mengungkit masalah pernikahannya dengan Raka. Selesai makan siang, mereka semua berkumpul diruang tengah. Kembali berbincang dan pada akhirnya Pak Ari pun mengutarakan maksud kedatangannya, yaitu untuk menjemput Ajeng. Umi sempat syok, bagaimana tidak.. anak yang sudah dianggap anak, dibesarkan, dididik dan disayang dari kecil sampai hampir menjadi dokter hendak diambil begitu saja. Siapa yang rela???? Tapi umi sadar, mungkin tugasnya untuk menjaga ajeng sudah selesai, tak salah bila orang tua ajeng ingin mengambil anaknya. Dengan berlinangan air mata umi mencoba bijak, memasrahkan semuanya pada Ajeng. Ini hidup ajeng dialah yang berhak untuk memilih. Tetap tinggal atau pulang bersama ayah dan kakaknya dan segera dinikahkan.
Ajeng hanya diam tertunduk, ia tak mengeluarkan sepatah katapun ketika ditanya ayah dan Umi. Berkali-kali ditanya berkali-kali pula ajeng diam. Ia hanya bisa berharap kakaknya, yudha dapat segera mengeluarkan suara untuk menolongnya.
“ayo kakak, bicara pada ayah!!!” gumam ajeng dalam hati sambil sesekali menyenggol kaki kakaknya yang saat itu memang duduk disampingnya.
Yudha juga diam, mungkin ia sedang merangkai ribuan kata untuk menolong adiknya. Mencari berbagai macam alasan untuk menolak secara halus permintaan ayah ajeng.
“kakak...” lirih ajeng dengan suara pelan dan terdengar oleh siapapun. Ajeng kembali menyenggol kaki yudha, yudha masih saja diam.. hadehhh.. mungkin kakaknya lagi kehilangan sinyal, makanya pemikirannya jadi LOLA (loading Lambat).
“ayolah ajeng, bicaralah nak!! Umi akan terima semua keputusanmu.” Kata Umi membelas kepala Ajeng.
Mata ajeng pun berkaca-kaca, keringat dinginnya mulai keluar. Yudha pun berdehem.
“Boleh ananda bicara pada pak Ari dan Umi??”
“Silahkan nak yudha. Silahkan..kita kan memang sedang musyawarah.” Sahut pak Ari.
“Begini. Ananda bicara atas nama kemaslahatan dua keluarga. Sebelumnya dik Ajeng pernah mengutarakan masalah ini pada ananda. Baik selama ananda dirumah maupun diluar negeri, kami tak henti2nya untuk saling berkomunikasi. Sebenarnya dik ajeng ingin sekali pulang kekampung halamannya, berniat untuk berkumpul bersama keluarga besarnya dikampung. Tapi.. disini, dik Ajeng sudah memiliki calon sendiri untuk dijadikan pasangan hidup. Mereka berdua saling mencintai, hubungan merekapun sudah lama terjalin. Dik ajeng tak pernah berbuat maksiat dengan cintanya, dia hanya mencintai dengan sewajarnya saja. Laki-laki itupun sangat mencintai dik Ajeng, mungkin dia bisa mati bila ia tidak bisa memperistri dik ajeng. Ananda hanya berharap bahwa pak Ari dan Umi mau merestui hubungan dik Ajeng dan orang yang dicintainya, bagusnya lagi kita bisa menyegerakan pernikahan mereka. Saya berani menjamin bahwa orang yang dicintai dan mencintai ajeng adalah orang yang baik, soleh, bertanggung jawab dan akan berjuang sekuat tenaganya untuk membahagiakan Ajeng. Sebab saya tau cinta mereka tulus. Itu menurut pendapat ananda.”
Muka pak Ari pucat, begitupun Umi.. bagaimana bisa ini terjadi?? Anak kesayangannya menjalin hubungan dengan seorang laki-laki tanpa sepengetahuannya.
“Anakku, apa benar yang dikatakan kakakmu yudha barusan??” tanya Umi halus.
Ajeng mengangguk, mata Umi kembali berkaca-kaca. Kecewa, itulah yang Umi rasakan. Anak yang sudah ia anggap anak tak pernah bercerita tentang orang yang dicintainya, masalah sepenting ini?? Tak sekalipun ajeng membahasnya didepan Umi, apa ajeng tak percaya Umi?? Apa Umi tak berarti dalam hidup ajeng?? Segelintir pertanyaan2 muncul dibenak Umi.
“Siapa dia anakku?” tanya Umi mencoba tegar dan menyingkirkan segala pikiran negatifnya.
Ajeng bingung, ia sama sekali tak punya jawaban.. ya iyalah orang ajeng tak pernah jatuh cinta dan menjalin hubungan spesial dengan laki-laki sebelumnya. Haduhhh... ayo kak Yudha, ini semua skenario yang kau buat, jadi kaulah yang harus menuntaskannya. Ujar ajeng dalam hatinya. Jantungnya berdetak kencang, peluh mengaliri wajah cantiknya, mukanya pun pecat dan tubuhnya bergetar.
“Umi, Umi tau sendirikan kalau Dik Ajeng ini sangatlah pemalu untuk masalah seperti ini. Kalau boleh biarlah ananda saja yang menjelaskan siapa orang yang dicintai dik Ajeng. Namun sebelumnya ananda minta Umi tidak marah bila mendengar namanya, apa umi mau berjanji tidak akan marah?? Karena ananda takut Umi akan marah.” Kata Yudha.
“baiklah Umi berjanji tidak akan marah.”
“nama lengkap lelaki yang dicintai dik Ajeng dari dulu hingga sekarang adalah Muhammad Yudha bin Dharma Wijaya.”
“APA??? Jadi yang dicintai dan mencintai Ajeng itu kau sendiri Yudha??”
Semua mata tertuju pada Yudha, termasuk ajeng. Mereka Terkejut mendengar pengakuan yudha, ajeng sendiri tak habis pikir. Kakaknya mampu bersandiwara sampai seperti itu, membelanya gila-gilaan. APPLAUSE buat kak Yudha!!!
“Benar Umi, kami saling mencintai. Aku sangat mencintai dan menyayangi dik Ajeng demikian pula sebaliknya.”
“Bukankah cintamu pada Ajeng hanya sebatas cinta kakak pada adiknya yudha?? Bukan cinta sepasang kekasih.”
“Tidak Umi, aku mencintai Dik Ajeng seperti yusuf mencintai zulaikha, aku mencintai dik ajeng seperti romeo mencintai juliet atau seperti Nabi Muhammad mencintai Aisyah. Aku telah berkata sejujur2nya Umi.”
“Ajeng??” panggil Umi berharap ajeng buka suara.
“Be..be..benar Umi, apa Umi lupa.. kalau kami bukan kakak adik, kami bukan mahram. Kami saling mencintai namun tak pernah melakukan hal-hal yang menodai kesucian diri, hati dan jiwa.”
Pak Ari dan Umi sempat bicara memperdebatkan pembicaraan barusan, yudha berusaha semaksimal mungkin membujuk Pak Ari dan Umi agar mau merestuinya. Bahkan Fathir yang sedari tadi diam ikut buka suara, membantu yudha agar ayahnya dan Umi mau merestui hubungan adiknya dan Yudha. Lebih baikYudha dari pada Raka. Pikir fathir. Akhirnya Pak Ari pasrah, sekarang terserah Umi.
“Umi, ananda mohon.. apa saling mencintai itu dosa?? Apa cinta kami salah?? Perasaan itu datang dengan sendirinya Umi, masuk begitu saja terpanah tepat didalam hati.. apa Umi rela kami menderita?? Apa Umi tak melihat kesedihan dik Ajeng beberpa hari ini?? Dia menangis Umi, dia khawatir dan ketakutan akan kehilangan orang yang sangat dicintainya. Adik Ajeng itu sangat mencintai dan menghormati Umi sehingga ia tak mampu mengatakan isi hatinya, sebab orang yang dia cintai adalah anak laki-laki umi satu-satunya. Percayalah Umi, Dik Ajeng adalah menantu terbaik buat Umi.” Desak Yudha dengan nada serius.
SUMPAH!!!! Akting kak Yudha keren, kalau jadi aktor terus masuk HOLLYWOOD dijamin deh piala AMERICA MOVIE AWARDS bakalan dibawa pulang semua sama dia. Dengan sadar kalau lawan main filmnya saat ini begitu serius ajeng pun mengimbanginya. Dengan lantang ia mengakui cintanya pada yudha. Membuat Umi mnyadari satu hali, saat ini ia sedang menghadapi gelombang cinta yang begitu besar dan tak terkalahkan.

Umi luluh, karena cintanya yang begitu besar pada kedua anaknya.. Umipun merestui hubungan yudha dan ajeng. Pak Ari masih diam, sejujurnya dia sangat bahagia anak gadis satu2nya akan menikah dengan orang yang benar. Tapi..tak dipungkiri rasa khawatir itu juga menyeruak dihatinya. Hutang delapan puluh juta itu??? apa yang akan dikatakannya pada sang mucikari...
Umi menanyakan perihal rencana pernikahan yudha dan ajeng, dengan tegas yudha mengatakan kalau dirinya sudah membuat rencana yang matang sekali, dan akan segera melangsungkan akad nikah. DEGGG.... hati Ajeng berdesir, AKAD NIKAH??? Apa kakaknya sudah gila?? Apa kakaknya sedang dirasuki roh halus? Apa kakaknya tidak sadar tengah berbicara seperti itu dengan siapa?? Ajeng melirik yudha, disaat yang sama yudha pun melirik ajeng. Lirikan mereka bertemu. Yudha mengerdipkan mata sambil tersenyum. Ajeng hanya diam. Hmmm... pokoknya kalau ada masalah besar setelah ini yang bertanggung jawab adalah kakaknya, yudha.
“Kapan rencananya Yud??”
“secepatnya, saat Umi, Pak Ari dan kak Fathir sudah benar-benar merestui dan mengikhlaskan hubungan kami.”
“Umi sudah ikhlas lahir bathin anakku.”
“Bapak juga ikhlas lahir bathin.”
“Umi dan ayah saja sudah ikhlas lahir bathin, apalagi aku.. tentu saja.. akulah yang paling ikhlas adikku tersayang akan menikah dengan pemuda baik seperti dek Yudha.”
“Alhamdulillah, kami sangat bahagia mendengarnya, Dik Ajeng... kau sudah mantap lahir bathin kan dengan rencana pernikahan kita?” tanya yudha menyentuh pundak Ajeng.
Hati ajeng bergetar hebat, apa maksudnya ini?? Kenapa kakaknya bicara seperti itu, apakah ini juga bagian dari skenario kak Yudha??
“kenapa kau ragu adikku?? Apa kau menyangsikan cintaku padamu?? Apa kau ragu akan niatku untuk membahagiakanmu??”
Mata Ajeng berkaca-kaca. “kau sungguhan kak?? Atau..ini hanyalah sebuah sandiwara” tanyanya terisak.
“ini sungguh dan serius. Kita akan menikah, tinggal bersama mereda masa depan bersama dengan penuh cinta. Kita juga akan membesarkan anak-anak kita dirumah ini. Apa kau tidak mau??”
Tangis Ajeng meledak. “apakah benar kita akan menikah kak??”
Pak Ari, Fathir dan Umi menangis, mereka terharu menonton kisah cinta dua orang sejoli yang akan segera bersatu ini. Sungguh kebahagian yang sangat besar. namun apakah mereka tau kalau ajeng menangis bukan karna masalah itu, ajeng hanya bingung.. mencari kepastian dari kakaknya.
“kak yudha, jelaskan padaku.. apa artinya ini?? Kakak sedang bersandiwara bukan??”
“Adikku Ajeng, dengarkan baik-baik ya! Sumpah demi Allah kakak sungguh2 hendak menikahimu. Kakak sangat mencintaimu, kakak tak bisa hidup tanpa dirimu hanya kau.. tak ada yang lain. Kakak mau kamulah yang jadi istri kakak, menjadi pendamping kakak selamanya menuju ridha illahi, kakak ingin kaulah yang melahirkan dan membesarkan anak-anak kakak. Kakak janji akan sekuat tenaga membuatmu bahagia. Ini bukanlah sandiwara lagi, ini serius.. apa kau mau mengarungi hidup dengan kakak adikku??” yudha menjawab dengan segenap perasaannya, kedua matanya basah.
Ajeng mengangguk tanda setuju. “Adik ikut kakak, adik percaya pada kakak.”
Perasaan haru, bahagia, cinta, optimis, surprise dan kaget berbaur jadi satu apalagi setelah mendengar pernyataan selanjutnya dari Yudha. Akad nikah akan kami laksanakan malam ini juga!!! #GUBRAKKKK bener-bener hobi buat kejutan nih kak Yudha.
“ananda sudah menyiapkan semuanya, penghulu, saksi, katering, KUA dan segala administrasinya. Bahkan ananda juga telah mengundang tokoh2 masyarakat, remaja masjid dan masyarakat dekat sini. Semuanya sudahdipersiapkan di Aula Islamic Centre, Umi. Setengah jam lagi acaranya akan dimulai, orang2 sudah menunggu disana, sebentar lagi akan ada 2 mobil yang menjemput kita, dan sebaiknya Umi, pak Ari, Fathir dan dik Ajeng segera bersiap-siap.. dik ajeng..pakailah gaun pengantin dari Turki waktu itu, berdandan yang anggun jangan berlebihan. Kakak juga mau bersiap-siap.”

Mereka semua bersiap-siap, ajeng hanya berdandan sedikit sesuai keinginan kakak yang dikagumi dan dicintainya itu. tidak dandan saja ajeng sudah cantik mempesona apalagi dandan. Ya pastilah hasilnya AMAZING!!! Saat sama-sama keluar dari kamar keduanya berpandangan sesaat lalu saling menduduk. Hati keduanya berbunga-bunga. Baru kali ini mereka berpandangan namun disertai perasaan sangat indah yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.
Malam itu, akad nikah berjalan dengan lancar dan penuh khidmat. Dalam acara sakral itu yudha kembali memberikan kejutan. Yudha memberikan mahar sebuah mushaf cantik yang ia beli di Kairo beserta uang tunai senilai 85 juta rupiah dan hafalan surah Ar Rahman.
Acara akad nikah yang indah itu selesai tepat pukul 10 malam, setelah semua hadirin memberikan ucapan selamat, dua pengantin dan keluarganyapun pulang kerumah. Mereka kembali duduk diruang tengah sambil berbincang-bincang. Yudha menceritakan semuanya, tentang persiapan yang telah ia lakukan, itu semua karena dulu yudha adalah ketua Remaja  Masjid, yudha juga punya banyak kenalan di KUA, sehingga mudah untuknya mempersiapkan semua itu. yudha juga menceritakan dari mana ia bisa mempunyai uang  sebanyak itu. itu semua adalah uang tabungan yudha selama ia kuliah ditambah uang selama ini dia bekerja paruh waktu. Bahkan dibank uangnya masih tersimpan 15 ribu poundsterling. Sungguh mencengangkan.... yudha juga bicara jujur pada Umi, Pak Ari dan fathir perihal kebohongannya bersama Ajeng diawal tadi. Umi, Pak Ari dan fathir hanya manggut-manggut mendengar penjelasan yudha. Yudha juga mengaku kalau dirinya mulai jatuh cinta pada ajeng saat ia pulang dari Kairo kemarin, apalagi setelah mengetahui kalau Umi sangat menyayangi ajeng, cinta itu tumbuh semakin besar. semuanya terharu mendengar penuturan yudha.
“kalau kau Ajeng, sejak kapan kau mencintai kakakmu si yudha ini??” celetuk Fathir.
“hemb..kalau dia kayaknya sejak pertama kali lihat aku dulu, sejak masih ingusan hehehe..” serobot yudha sambil tertawa. Semuanya ikut tertawa kecuali Ajeng.
“ihh kakak nakal!! Main tuduh aja. ajeng itu suka sama kakak sejak musyawarah tadi, saat kakak menyakinkan ajeng kalau kakak tidak bersandiwara dan sungguh-sungguh sama ajeng.”
Yudha hanya tersenyum. Sedangkan Umi menitikan air mata haru.
“Emm.nak Yudha, apa maharnya tidak terlalu besar??”
“Masya Allah, mahar itu tidak ada nilainya untuk seorang gadis soleha seperti dik Ajeng. Bagi yudha Dik Ajeng tidak bisa dinilai dengan materi atau apapun isi dunia ini.”
Ajeng kembali menangis, kali ini benar-benar tangis kebahagiaan mendengar perkataan suaminya. Ia merasa sangat dimuliakan dan dihargai.
“apakah masih ada yang ingin dibicarakan?? Saya capek sekali. Saya perlu istirahat.”
“memang sudah malam, lebih baik kita semua istirahat. Bersiap2 untuk menyambut wisuda ajeng besok.”
Umi, pak Ari dan fathir beranjak dari duduknya, yudha berbisik manja ditelinga ajeng.
“Yudha malam ini tidur dimana Bu Dokter? Kamar yudha ditempati ayah dan kakakmu. Masa yudha harus tidur diruang tamu. Bolehkah yudha tidur dikamar Bu Dokter??”
Ajeng tersenyum, dia tidak menjawab sama sekali. Ia hanya meraih kepala yudha hendak menciumnya. Yudha meletakkan telunjuk kanannya didepan bibir ajeng. “SsssSSssTtttt... jangan disini??” dengan gerakan cepat yudha membopong ajeng kekamar. Umi, pak Ari dan fathir hanya tersenyum geli menyaksikan kejadian itu.

Sampai dikamar, yudha meletakkan ajeng dan mendudukannya perlahan disisi ranjang. Yudha mengamati wajah istrinya itu lekat-lekat. Maha suci Allah yang telah mengukir wajah seindah ini. Bisiknya dalam hati.
“kakak capek??” tanya Ajeng.
“He eh..”
“Mau dipijit??”
“He eh..”
“kak, boleh adik minta sesuatu??”
“Boleh.”
“Adik tau kakak capek. Tapi adik minta, malam ini juga wisuda-lah adik menjadi seorang perempuan yang paling berbahagia didunia. Sebelum besok adik diwisuda menjadi sarjana kedokteran.”
“Maksud adik??”
Ajeng mengerdipkan mata.
Yudha tersenyum. “baiklah, kakak mengerti maksudmu. Tapi tolong kakak dipijit dulu dong biar agak segar. Setelah segar nanti kita sholat bareng dulu dua rakaat. Bermunajat kepada Allah SWT. Barulah kakak akan mewisuda kamu dan membawamu ketaman surga.”
“tapi nanti sholatnya jangan baca surat yang panjang-panjang yah kak. Baca surat pendek saja.”
“Lho?? justru nanti kakak malah mau baca surat Al Baqarah sampai selesai terus Surat Ali Imran.”
“Jangan Kak!!!” rengek Ajeng manja.
“kenapa??”
“Ahh kakak, nanti keburu pagi terus.. kapan dong kakak mau mewisuda aku.”
Yudha tersenyum, ajeng menatapnya dengan penuh cinta.
Malam itu purnama memancar terang..
Angin mengalir sepoi-sepoi..
Langit pun cerah..
Bintang-bintang bertaburan..
Sepasang kunang-kunang menari-nari diangkasa..
Dan kedua pasangan pengantin baru ini tampak bagitu indak memadu cinta....

-------------------------------THE END-------------------------------------


pernah baca? ya iyalah, ini kan mirip-mirip ehh mirip bener asli fix mirip banget kek pinang dibelah dua sama Novel dengan judul yang sama Setetes embun cinta... dohh saya lupa nama aslinya di tuh novel apaan pokoknya judulnya kek gitu deh :D hihihii gak maksud plagiat yaaaa.. cuma kebetulan file ini muncul lagi dilaptop saya, hohoho jadi saya post ulang deh, maap banget bagi yang merasa dirugikan :) hehehe ciyusss gak ada maksud apa-apa cuma mau menuhin blog saya doang kok ;) hihihihi tapi ini gak copas loh, ngetik sendiri nih walaupun idenya yang rada-rada copas sama penulis itu novel, doh saya lupa lagi nama penulisnya.. intinya gitu aja sih. :D bye.. thanks for visiting my blog ;)v
Selengkapnya...